Sambangi Petani Kopi di Mendteng, Romi : Polanya Harus Dirubah

0
111
Romi Hariyanto Bupati Tanjan Timur, saat melihat Buah Kopi Arabika di Mendahara Tengah

Serumpuntimur.com, Muarasabak – Untuk mencari persoalan rendahnya nilai jual dan kendala yang dihadapi Petani, Bupati Tanjab Timur, H. Romi Hariyanto menyambangi perkebunan Kopi Arabika di Parit 10, Desa Mendahara Tengah, Kecamatan Mendahara, Selasa (18/12). Disana Romi melakukan dialog dengan para petani dengan didampingi beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Selain itu, Romi juga melihat tanaman Kopi Arabika yang menjadi tanaman tumpang sari diatas lahan seluas 200 hektar. Kopi Arabika yang ditanam warga sejak 15an tahun yang lalu ini mampu menghasilkan buah sebanyak 2,5 ton perhektar untuk sekali panen. Hanya saja, nilai jual yang masih rendah menjadi persoalan petani Kopi di Parit 10.

“Untuk saat ini perkilonya Rp 25.000, sebelumnya harga Kopi pernah diangka Rp. 42.000 perkilo,”ungkap Ladi salah satu petani.

Disamping persoalan itu, mobilisasi hasil panen juga menjadi persoalan. Sebab, jalan menuju perkebunan warga masih tanah timbunan biasa. Sementara kanal yang biasanya dilalui Ketinting dan Ketek sudah dangkal.

”Untuk pengolahan Kopi kami juga masih terkendala. Apalagi untuk pengolahan menjadi kopi, selain peralatan yang tidak ada, kami juga belum paham proseanya seperti apa,”tambah Edi petani lainnya.

Sementara itu Romi Hariyanto menegaskan, Pemerintah Daerah akan mensupport petani. Asalkan komitmen untuk mengembangkan Kopi Arabika kedepannya. Romi juga langsung menggaransi untuk penambahan alat pasca panen dan sangrai tahun depan.

” Saya datang kesini memang untuk mencari informasi apa yang menjadi keluhan Bapak-Bapak sekalin. Kami Pemerintah Daerah berkomitmen untuk terus membantu apa yang menjadi persoalan disini,”ungkapnya.

Selain alat pasca panen, Romi juga memerintahkan Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) yang juga hadir dalam rombongan, agar kanal yang ada dilakukan normalisasi pada APBDP 2019 mendatang. Bahkan, untuk langkah awal Romi mengarahkan agar alat Kecamatan dibawa ke Parit 10 Mendahara Tengah.

Lebih lanjut Romi menjelaskan, setelah mengamati dan melihat Kopi yang ditelah dipanen warga memang akan timbul persoaalan terkait nilai jual. Sebab, secara kualitas cara panen dan pengolahan Kopi di Parit 10. Petani disana masih memanen Kopi yang belum saatnya dipanen. Begitu juga dengan pengolahannya masih butuh dampingan.”Secara kualitas memang belum begitu baik dan inilah yang menjadi persoalan rendahnya nilai jual. Kopi yang dipanen masih pelangi (Ada yang belum saatnya dipanen sudah dipanen), untuk pengolahannya juga. Makanya nanti kita akan panggil perwakilan petani untuk melakukan pelatihan agar maksimal. Karena polanya harus dirubah,”jelasnya.

Sementara itu, Nurlian Penyuluh Pertanin Mensahara Tengah menjelaskan, Kopi Arabika yang dikembangkan diatas lahan 200 hektar dikelola oleh Tiga Kelompok Tani. Kelompok Seti Reziki 5, Lapis Makmur dan Setia Baru.

“Selain Kopi lokal juga ada bantuan dari Pemerintah seluas 50 Hektar. Dan ini terus kita lakukan pendampingan,”katanya. (Amir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here