Pembelian Solar di Tanjabtim Mulai Dibatasi

0

Muarasabak, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) PT. Cantika Mandiri Pramata yang terletak di pusat Perkantoran Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) mulai membatasi pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar. Pembatasan itu sudah diberlakukan sejak 10 September lalu. Sembari sosialisasi, petugas tetap menjalankan surat edaran BPH Migas itu.

Manager SPBU Cantika Mandiri Pratama, Muhammad Awaludin menyampaikan, regulasi saat ini, SPBU tegah melaksanakan Surat Edaran BPH Migas dengan nomor 3863 Tahun 2019 tentang pengendalian kuota JBT atau aturan untuk membatasi pembelian BBM jenis solar di SPBU. ‘’Untuk angkutan roda empat hanya diperbolehkan sebanyak 30 liter per hari. Kemudian untuk kendaraan roda enam sebanyak 60 liter per hari. Sementara untuk kendaraan angkutan pribadi hanya boleh sebanyak 20 liter perhari,’’ ungkapnya.

Awaludin menyebutkan, dalam pembatasan pembelian BBM jenis solar itu, pihak SPBU sedang berupaya mensosialisasikan aturan tersebut di SPBU Cantika.

Sejumlah sopir pun mengaku mengerti, dan ada juga yang belum mengetahui. ‘’Pembatasan pembelian BBM jenis solar ini sudah diberlakukan di SPBU Cantika sejak 10 September,’’ sebutnya.

Untuk menimalisir pelangsir yang selalu memanfaatkan kesempatan, lanjut Awaludin, petugas akan menolak mengisi. ‘’Biasanya disisi itulah mulai timbul konflik antara petugas SPBU dengan pelangsir. Misal ada yang bandel, tetap tidak akan kita isi. Dan untuk mencegah terjadinya hal tidak diinginkan, kita jalin kerjasama dengan pihak Kepolisian,’’ ucapnya. ‘’Pada prinsifnya, SPBU tetap berupaya dan berusaha menjalankan aturan tersebut. Pembatasan ini kebijakan BPH Migas. Yang jelas pada pembatasan pembelian BBM jenis solar itu setau kita, untuk pengendalian pemkaian solar subsidi yang mungkin sudah diambang batas. Kita tetap akan tegakan aturan itu,’’ imbuhnya.

Awaludin menambahkan, untuk kuota BBM jenis solar inipun tidak stabil. Terkadang SPBU di kirimkan oleh Pertamina sebanyak 16 ton. Tetapi terkadang pada waktu tertentu hanya sebanyak 8 ton. ‘’Sementara 16 ton saja untuk kebutuhan Tanjabtim sendiri kurang. Karena tingginya animo masyarakat yang harus dilayani. Terkadang tingginya kebutuhan solar mulai terlihat disaat pekerjaan pembangunan Pemerintah berjalan,’’ tandasnya. (Hipni)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here